Saya teringat dengan postingan yang dikirimkan ke
milist ini oleh pimpinan Majelis Ilmu "Jama'ah Al Priyantoniyyah" hari
Sabtu kemarin tanggal 29 Juni '13, tentang blusu'annya Jokowie.
Di
situ disebutkan kalo Om Jokowi lebih senang melakukan "investigasi"
dadakan atau blusukan agar lebih mampu mengendus masalah yang dialami
oleh rakyat terutama rakyat kecil. Dia tidak mau terpaku atau segera
percaya dengan data statistik kependudukan yang disodorkan. Dia ingin
tau kondisi riilnya.
Terlepas
apakah aksi blusu'an yang dilakukan Jokowi
itu mencontoh tokoh tertentu atau memang Si Gub-DKI itu terinspirasi
karena benar-benar ingin "nauin" masalah orang bawah dan mencoba memberi
solusi cerdas atas masalah yang timbul,ternyata ehhh ternyata aksi
blusu'an seperti itu sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh manusia utama
di muka bumi ini.
Rosululloh
saw adalah sosok yang sangat peduli dengan masalah kemanusiaan,
masalah-masalah sosial. Tentunya agan-agan masih ingat dengan pengemis
buta yang sudah tua, yahudi pula statusnya yang sering "mangkal" di
pasar kawasan Madinah. Rosululloh begitu menyantuni
pengemis tersebut, padahal pengemis ini setiap kali ada orang yang
mendatanginya selalu berpesan "jangan dekati Muhammad, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir." Akan halnya dengan Rosululloh saw,
tanpa menyebutkan identitasnya sebagai pengemban risalah kenabian yang
membawa ajaran Islam yang mulia, dari rumah dibawakannya makanan untuk
pengemis tersebut dan menyuapkannya penuh dengan kasih sayang.
Dan
kelak di masa yang akan datang, si pengemis buta ini merasakan suapan
yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Saat itu yang memberi suapan
gratis kepada
pengemis itu adalah Khalifah Abu Bakar Siddiq ra. Tentu saja si
pengemis buta ini melakukan "aksi protes ketidak puasan" atas suapan
yang diterimanya. "Siapa engkau?, Engkau bukanlah orang yang selama ini
menyuapiku! Di mana dia? Apabila dia datang, tidak perlu tanganku
bersusah-susah mengambil dan memasukkan ke mulutku. Orang yang selama
ini menyuapiku selalu mengunyahnya dulu sampai lembut di mulutnya
kemudian barulah disuapkan kepadaku."
Temans...Abu
bakar ra tidak dapat menahan tangisnya, dan dia mengatakan kepada
pengemis tua itu siapa dirinya dan siapakah
adanya orang yang senantiasa menyuapinya dengan penuh kelembutan dan
kasih sayang. Mendengar penuturan Abu Bakar ra, pengemis tua itupun
menangis sedih. Selama ini dia selalu menghina Rosul, memfitnahnya tapi
dia tidak pernah balas memarahi bahkan setiap hari membawakan makanan
untuknya bahkan menyuapinya. Maka si pengemis itupun akhirnya
mengucapkan 2 kalimat syahadat, masuk Islam.
Begitu
juga dengan sosok Umar bin Khattab ra yang berkeliling malam untuk
mengetahui permasalahan rakyatnya. Hingga akhirnya dia memanggul sendiri
bahan makanan tersebut dan
diserahkan kepada mereka yang membutuhkan.
Bedanya
kalau aksi blusukkan Jokowi terkadang ditemani oleh para wartawan,
sementara aksi yang dilakukan oleh Rosululloh saw dan para sahabat tidak
dikelilingi/ditemani oleh seorangpun. Kita ambil nilai baiknya saja
kawan...
Lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita perlu melakukan aksi blusukan bukankah kita belum jadi pimpinan
? terus kalau mau blusukan ke mana ?
Baiknya kita tengok surah An Nisa ayat 34, "Laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita.."
Sebagai
laki-laki, antum di milist ini sudah menjadi pemimpin untuk keluarga.
Aksi blusukan kecil-kecilan bisa dilakukan kepada anggota keluarga kita,
kemudian saudara-saudara kita, tetangga kita (haahhh tetangga ?????).
Wallohu
a'lam.

kalo dibaca lumayan juga nih kayaknya...wuakakakakakkk
BalasHapus