News Update :

Blusukan

Rabu, 03 Juli 2013

Saya teringat dengan postingan yang dikirimkan ke milist ini oleh pimpinan Majelis Ilmu "Jama'ah Al Priyantoniyyah" hari Sabtu kemarin tanggal 29 Juni '13, tentang blusu'annya Jokowie.

Di situ disebutkan kalo Om Jokowi lebih senang melakukan "investigasi" dadakan atau blusukan agar lebih mampu mengendus masalah yang dialami oleh rakyat terutama rakyat kecil. Dia tidak mau terpaku atau segera percaya dengan data statistik kependudukan yang disodorkan. Dia ingin tau kondisi riilnya.
Terlepas apakah aksi blusu'an yang dilakukan Jokowi itu mencontoh tokoh tertentu atau memang Si Gub-DKI itu terinspirasi karena benar-benar ingin "nauin" masalah orang bawah dan mencoba memberi solusi cerdas atas masalah yang timbul,ternyata ehhh ternyata aksi blusu'an seperti itu sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh manusia utama di muka bumi ini.

Rosululloh saw adalah sosok yang sangat peduli dengan masalah kemanusiaan, masalah-masalah sosial. Tentunya agan-agan masih ingat dengan pengemis buta yang sudah tua, yahudi pula statusnya yang sering "mangkal" di pasar kawasan Madinah. Rosululloh begitu menyantuni pengemis tersebut, padahal pengemis ini setiap kali ada orang yang mendatanginya selalu berpesan "jangan dekati Muhammad, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir." Akan halnya dengan Rosululloh saw, tanpa menyebutkan identitasnya sebagai pengemban risalah kenabian yang membawa ajaran Islam yang mulia, dari rumah dibawakannya makanan untuk pengemis tersebut dan menyuapkannya penuh dengan kasih sayang. 

Dan kelak di masa yang akan datang, si pengemis buta ini merasakan suapan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Saat itu yang memberi suapan gratis kepada pengemis itu adalah Khalifah Abu Bakar Siddiq ra. Tentu saja si pengemis buta ini melakukan "aksi protes ketidak puasan" atas suapan yang diterimanya. "Siapa engkau?, Engkau bukanlah orang yang selama ini menyuapiku! Di mana dia? Apabila dia datang, tidak perlu tanganku bersusah-susah mengambil dan memasukkan ke mulutku. Orang yang selama ini menyuapiku selalu mengunyahnya dulu sampai lembut di mulutnya kemudian barulah disuapkan kepadaku."

Temans...Abu bakar ra tidak dapat menahan tangisnya, dan dia mengatakan kepada pengemis tua itu siapa dirinya dan siapakah adanya orang yang senantiasa menyuapinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Mendengar penuturan Abu Bakar ra, pengemis tua itupun menangis sedih. Selama ini dia selalu menghina Rosul, memfitnahnya tapi dia tidak pernah balas memarahi bahkan setiap hari membawakan makanan untuknya bahkan menyuapinya. Maka si pengemis itupun akhirnya mengucapkan 2 kalimat syahadat, masuk Islam. 

Begitu juga dengan sosok Umar bin Khattab ra yang berkeliling malam untuk mengetahui permasalahan rakyatnya. Hingga akhirnya dia memanggul sendiri bahan makanan tersebut dan diserahkan kepada mereka yang membutuhkan.
Bedanya kalau aksi blusukkan Jokowi terkadang ditemani oleh para wartawan, sementara aksi yang dilakukan oleh Rosululloh saw dan para sahabat tidak dikelilingi/ditemani oleh seorangpun. Kita ambil nilai baiknya saja kawan...

Lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita perlu melakukan aksi blusukan bukankah kita belum jadi pimpinan ? terus kalau mau blusukan ke mana ?
Baiknya kita tengok surah An Nisa ayat 34, "Laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita.."
Sebagai laki-laki, antum di milist ini sudah menjadi pemimpin untuk keluarga. Aksi blusukan kecil-kecilan bisa dilakukan kepada anggota keluarga kita, kemudian saudara-saudara kita, tetangga kita (haahhh tetangga ?????).
Wallohu a'lam.
Share this Article on :

1 komentar:

 

© Copyright Tempat Kumpul Anak-anak Darussalam 2013 - 2014 | Re-Design by AnNahlWebMedia | Supported by Rhifay.